PALU, SULAWESI TENGAH — Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tengah, Badan
Litbang Pertanian mengungkapkan perbaikan lahan pertanian yang rusak
serta integrasi sumur dangkal dan sistem irigasi yang efisien akan
mempercepat petani kembali bercocok tanaman di sawah sambil menunggu
pulihnya saluran irigasi Gumbasa. BPTP menyebutkan 7.000 petani
terdampak oleh rusaknya areal persawahan seluas 7.356 hektare di Palu,
Sigi dan Donggala akibat gempa bumi 28 September 2018.
Dirman (51) petani di desa Sidondo IV, Kabupaten Sigi, Sulawesi
Tengah pada Rabu siang (10/7) sibuk membersihkan lahan bekas sawah untuk
ditanami kacang tanah di lahan setengah hektare miliknya. Kepada VOA,
ia mengatakan gempa bumi 28 September 2018 menyebabkan areal persawahan
di desanya tidak lagi dapat digunakan untuk menanam padi karena saluran
irigasi Gumbasa tidak lagi berfungsi. Ini menyebabkan para petani
seperti dirinya mengupayakan jenis tanaman palawija seperti jagung atau
kacang tanah.
“Ini semuanya rata sawah semua dulu. Sesudah bencana gempa, itu tidak
bisa lagi diusahakan untuk padi. Kalau macam tanaman palawija jagung
bisa, itu pun tidak semuanya, separuhnya saja” kata Dirman.
Dirman menceritakan tidak berfungsinya saluran irigasi Gumbasa
membuat kegiatan pertanian di desanya itu hanya mengandalkan air hujan
yang tidak bisa diprediksi kapan akan turun. Jika hujan turun setelah
benih ditanam, ada harapan tanaman mereka bisa tumbuh dengan baik.
“Lalu ini saya tanam kacang tanah disinari matahari, tidak berisi,
ada isi cuma satu dua biji, modal saya kurang lebih satu juta, aduh
artinya boleh dikata lebih besar pasak daripada tiang itu hasilnya lalu
karena musim panas,” keluh Dirman mengenai hasil panen kacang tanah
sebelumnya yang kurang mendapatkan air hujan.
Hingga kini, upaya rehabilitasi irigasi Gumbasa oleh Kementerian PUPR
masih terus dilakukan untuk tahap pertama yang mencapai luas 1.070
hektare. Rehabilitasi tahap dua direncanakan mencakup 4.000 hektare.
Situasi sulit yang dialami Dirman merupakan cerminan kondisi serupa
yang dialami banyak petani lainnya di Sigi, Palu dan Donggala
pascabencana alam di Sulawesi Tengah. Menurut Andi Baso Lompengeng
Ishak, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi
Tengah, dari 29.687 hektare luas lahan sawah,7.356 hektare di antaranya
terdampak bencana dengan kategori rusak ringan 5.831 hektar, rusak
sedang 99 hektare dan rusak berat 583 hektare.
“Nah, yang paling terdampak di kecamatan-kecamatan itu adalah lahan
sawah. Kenapa? Karena dia terputus infrastruktur irigasinya. Rusak
semua. Yang mana lahan-lahan itu IP300 artinya bisa ditanami bisa panen 3
kali dalam setahun, entah itu padi-palawija-padi, atau
padi-padi-palawija, atau ada yang wilayah palawija semua, ”ungkap Andi
Baso.
Andi Baso berpendapat fokus upaya pemulihan sektor pertanian dalam
masa pemulihan dan rekonstruksi Sulawesi Tengah sebaiknya adalah
memulihkan lahan serta integrasi sumur dangkal dan sistem irigasi yang
efisien sebagai sumber air, sambil menunggu saluran irigasi Gumbasa
berfungsi kembali. Ia meyakini bila kedua hal itu selesai dilakukan,
tidak akan sulit untuk mengajak petani-petani yang sebagian di antaranya
tinggal di hunian sementara untuk kembali ke sawah.
“Memulihkan kondisi lahan tidak terlalu banyak biayanya apalagi kalau
misalnya ada NGO bawa buldoser, bawa loader dia ratakan itu
retakan-retakan tanah, dia ratakan kembali itu lahan yang miring-miring,
sesudah itu kita tancap sumur untuk airnya,”harap Andi Baso.
BPTP Sulawesi Tengah sejak awal Januari 2019 berupaya membantu petani
terdampak melalui dua program jangka pendek untuk mengembalikan usaha
tani, yaitu pemanfaatan lahan sekitar hunian sementara (huntara) dan
optimalisasi lahan pertanian terdampak ringan dan sedang. Hal ini
dilakukan di antaranya untuk membuat para petani dan keluarga yang
tinggal di huntara tetap bisa menanam tanaman palawija dan sayur-sayuran
serta beternak ayam kampung unggul yang bibitnya disiapkan oleh
Balitbangtan.
“Yang pertama dia sibuk, otomatis bisa me-recovery pengalaman
traumatik mereka. Yang kedua, setelah ada aktivitas, mudah-mudahan ada
hasilnya, bisa dimakan sendiri. Syukur-syukur ada lebih, bisa berbagi
dengan tetangga, karena ini berbasis kelompok wanita. Menanam
sayur-sayuran, tanaman semusim yang cepat menghasilkan,” lanjutnya.
Data BPTP Sulawesi Tengah menyebutkan kerusakan lahan pertanian
menyebabkan setidaknya 7.000 petani yang tergabung dalam 300 kelompok
tani di Palu, Sigi dan Donggala kehilangan mata pencaharian utama
mereka. Kondisi ini menyebabkan penurunan tingkat rata-rata pendapatan
bulanan para petani sebanyak 65 hingga 82 persen. Mereka terpaksa
bekerja serabutan, baik sebagai tukang bangunan, tukang batu ataupun
sektor jasa lainnya, dengan pendapatan rata-rata antara 500 ribu hingga
900.000 rupiah per bulan.